Wahyu Pamungkas Weblog

Just a simple blog from Wahyu Pamungkas

Peringkat Perguruan Tinggi Se-Dunia….Bisakah Jadi Acuan ????

Posted by wahyu1576 pada April 17, 2008

Tahun lalu, sebuah survei global yang dilansir Times Higher Education Supplement atau THES menunjukkan, UI merupakan perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Survei yang sama menunjukkan, kini peringkat UI terjerembab di bawah UGM dan ITB. UI yang sebelumnya di peringkat 250 di antara universitas-universitas di dunia, tahun ini melorot ke peringkat 395. Bagaimana mungkin hanya berselang setahun reputasi akademik institusi ini merosot?

Rupanya tidak hanya UI. Hasil survei tahun 2005, UI pada peringkat ke-420, UGM ke-341, dan ITB ke-408. Tahun 2006, semua meningkat. UI di peringkat 250, ITB ke-258, dan UGM ke-270. Dan, tahun 2007, tiga universitas itu merosot, UGM ke peringkat 360, ITB ke-369, dan UI ke-395.

Tidak netral

Rupanya, tak hanya di Indonesia. Banyak universitas lain di dunia yang seketika mencuat atau melorot puluhan hingga ratusan peringkat (http://uniranks.unifiedself.com). Hanya sejumlah universitas tersohor, seperti University of Oxford, University of Cambridge, dan Harvard University, yang peringkatnya relatif tetap. Mustahil rasanya kualitas pendidikan pasang naik dan surut semudah tertiup angin. Lalu apa yang salah? Tak lain, kacamatanya.

Dalam penelitian THES, peringkat universitas ditentukan dari empat kriteria.

Pertama, kualitas penelitian yang didapat dengan menyebarkan angket kepada para akademisi (peer review, bobot 40 persen), dan dari seberapa banyak penelitian universitas terkait dikutip (citations per faculty, bobot 20 persen).

Kedua, kesiapan kerja lulusan (graduate employability, bobot 10 persen). Ketiga, jumlah program internasional (bobot 5 persen) dan mahasiswa internasionalnya (bobot 5 persen); Keempat, rasio staf pengajar dan mahasiswanya (bobot 20 persen).

Dalam peer review, para akademisi diminta menyebutkan 30 universitas terbaik di wilayahnya. Masalahnya, peer review mendapat jatah bobot paling besar, sementara respons para akademisi amat riskan akan bias. Bukankah dimungkinkan, responden bersikap tidak netral dan menjawab berdasar sentimen dan kedekatan terhadap institusi tertentu?

Dari survei THES tahun 2007, ada 21 universitas yang mendapat nilai 100 dalam kriteria ini, tetapi tak semuanya layak. Alex Usher dari Educational Policy Institute di AS berpendapat tidak mungkin kualitas McGill University melebihi UPenn, Stanford, Berkeley, University of Tokyo, dan Ecole Normale Superieur (Educational Policy, 9/11/2007). Usher berkomentar blak-blakan karena ia alumnus McGill.

Pihak THES tidak pernah memaparkan teknik penarikan sampel, tetapi sampel dari penelitian itu jelas tidak merepresentasikan pengenyam pendidikan dari wilayah terkait. Dari 190.000 kuesioner yang dikirimkan, hanya 3.703 yang ditanggapi pada penelitian tahun 2006. Dan, jumlah tanggapan dari suatu negara lebih ditentukan dari tingkat kemampuan warganya untuk mengakses internet. Dari 101 negara yang menanggapi, jumlah penanggap paling banyak dari AS dan Inggris, AS 532 responden dan Inggris 378 responden. Namun, di China hanya 76 penanggap. Di Malaysia (112 penanggap), Singapura (92), dan di Indonesia hanya 93.

Alternatif

Para pengamat memandang, penelitian Shanghai Jiao Tong University (SJT) jauh lebih tepercaya ketimbang milik THES. Pemeringkatan SJT ditinjau dari sejumlah indikator, antara lain: Nobel dan penghargaan yang diterima alumni universitas (bobot 10 persen); Nobel dan penghargaan yang diterima staf akademik (20 persen); jumlah staf yang karyanya dikutip (20 persen); jumlah artikel yang dipublikasikan di jurnal (20 persen); jumlah kutipan terhadap karya-karya itu (20 persen); dan jumlah staf pengajar yang bekerja full-time (10 persen).

SJT menggunakan indikator-indikator yang konkret, sehingga hasil penelitiannya dapat lebih diandalkan. Selain itu, hasil pemeringkatan SJT lebih memacu untuk mengembangkan penelitian dan kultur akademik.

Notabene universitas-universitas di Australia menempati peringkat tinggi dalam survei THES—jumlahnya melebihi Jepang, Perancis, Jerman, Belanda dan negara-negara maju lainnya—bukan karena kualitas pendidikan dan penelitiannya, tetapi karena banyak membuka program internasional.

Meskipun selama ini banyak dikritik, THES tak kunjung merevisi metodologinya. Dan, agak miris rasanya, saat mencari di Google, saya menemukan banyak universitas dari berbagai negara yang berbangga diri karena termasuk universitas tersohor dalam versi THES. Publik negeri ini pun sempat dibuat terkesima karenanya.

Dilihat dari dampaknya, penelitian THES cenderung penelitian yang bermakna politis ketimbang akademis. Meskipun sebuah penelitian tidak bisa sepenuhnya akurat dengan kenyataan, tetapi sebuah pakem etika dalam melakukan penelitian mutlak dibutuhkan. Sebab etika akademik menuntut peneliti untuk selalu awas terhadap penelitiannya, terlebih saat hasilnya berpotensi memengaruhi aspirasi publik.

Bila tidak, sebuah penelitian dapat menyebabkan delusi publik. Lihat, ketika Universiti Malaya anjlok dari peringkat ke-89 pada tahun 2004 ke peringkat 169 tahun berikutnya, publik Malay- sia tersentak. Bermunculan editorial yang mensinyalir menurunnya kualitas pendidikan di negeri Jiran, bahkan sempat menjadi wacana dalam Parlemen.

Bagi kita, akan lebih arif jika kita lebih mawas, mengkaji lebih dulu survei semacam ini secara teliti. Dari sanalah kita menentukan, tolakan manakah yang paling tepat untuk memacu kita mengembangkan pendidikan tinggi di negeri ini.

Posted in Tak Berkategori | 4 Comments »

Another Master Piece From The Dead Band….Created by A Brilian Producer (The BEATLES)

Posted by wahyu1576 pada April 16, 2008

4

On June 24, 2008 Apple Corps Ltd./Cirque du Soleil will release the
feature-length documentary ‘All Together Now’ on DVD, which will be marketed and distributed worldwide by EMI Music.

The film details the story behind the unique partnership between The Beatles and Cirque du Soleil that resulted in the creation and launch of “LOVE,” the stage production still wowing audiences at The Mirage in Las Vegas, and the double Grammy-winning album of the same name. The film is dedicated to the memory of Neil Aspinall, an Executive Producer of the DVD.

The DVD’s total running time is 128 minutes, including the 84-minute
documentary film and bonus features. The film and extras are presented in DTS & Dolby Digital 5.1 Surround and Dolby Digital Stereo.

‘All Together Now’ faithfully recounts how the “LOVE” project came into
being, borne from the personal friendship between George Harrison and Cirque du Soleil founder Guy Laliberte. George saw how the twin talents of Cirque’s artistry and The Beatles’ music could be fused into something new and totally original.

The director, Adrian Wills, records early meetings between the Cirque &
Apple Corps Ltd. creative teams, as well as contributions from Sir Paul
McCartney, Ringo Starr, Yoko Ono Lennon and Olivia Harrison discussing how The Beatles’ music can be used in a different way. We hear about the decision to utilize the combined talents of Sir George Martin and his son Giles Martin to produce what became a 90-minute soundscape created from The Beatles’ multi-track recordings and how this new audio adventure was being quietly worked on in the famous Abbey Road Studios in London, England whilst the first creative ideas for the show were being formulated in Montreal, Canada.

These early stages of the project were all filmed, as were the first
rehearsals at the Mirage Hotel theatre in Las Vegas, which was ompletely rebuilt with a one-of-a-kind sound system and complex round staging to house the “LOVE” show. ÊSir George and Giles Martin, the showÕs Musical Directors, were involved every step of the way with the remarkable Cirque du Soleil creative team, performers and backroom staff.

It wasn’t all “plain-sailing” and there has been no attempt to disguise some of the disagreements that took place along the way regarding how some of the songs would be portrayed visually. These creative differences, a necessary part of the overall process of bringing “LOVE” to its most vibrant life, illustrate the participants’ love and respect for the music and vision of The Beatles.

In addition to their roles within the main feature, Sir George and Giles,
along with engineer Paul Hicks, also pop up in another piece titled “Changing The Music” which reveals in fascinating depth how the music was created and the challenges they faced. They explain how they sourced some of the individual instruments and effects and how they were encouraged to experiment.

The ‘All Together Now’ documentary and bonus features provide a fascinating insight into the creative skills and passion that went into making this project a groundbreaking critical and commercial success.

DVD contents ‘All Together Now’ documentary (84:00) Bonus Features: –
“Changing The Music” (22:00): A behind-the scenes look at the decision-making process for the “LOVE” concept and music production. -“Music In The Theatre” (07:00): A look at the process of creating the “LOVE”
show’s unique audio design. – “Making ‘LOVE'” (09:00): A backstage pass to explore the design of “LOVE,” including the art direction, costumes, props, screen imagery and the use of The Beatles’ voices in the “LOVE” stage production and its soundtrack.

Posted in Musik | Leave a Comment »

Kasus ASTRO: Indonesia Kalah Jumlah dan Teknologi

Posted by wahyu1576 pada April 15, 2008

satelit02

Penelitian propagasi Ku-band di daerah tropis sudah dilakukan sejak 80-an – 2002. Malaysia, Thailand dan Indonesia adalah negara-negara di mana riset Ku-band sering dilakukan. Dari hasil riset itu terlihat bahwa Ku-band tidaklah seseram yang disangka. Telkom dahulu Perumtel, ITS dan ITB adalah para periset Ku-band di Indonesia.

Hasilnya menunjukkan bahwa Ku-band mempunyai a

vailability 99,7% tidak 99,99% memang, tetapi itu sudah cukup baik. Sayangnya meskipun riset menunjukkan demikian, Indonesia adalah negara yang paling telat mengaplikasikan frekuensi ini untuk satelitnya.

Tertinggal

Malaysia dan Thailand jauh lebih dulu mengaplikasikan frekuensi Ku-band ini untuk satelitnya. Thailand bahkan dengan berani meluncurkan satelitnya yang hanya mempunyai transponder Ku-band saja – iPSTAR (120 BT). Malaysia akan terus meluncurkan satelit Ku-band-nya – Measat 4 atau Measat 1R.

Lagi-lagi Indonesia tertinggal. Menurut informasi PALAPA D akan diluncurkan tahun depan akan mempunyai 5 transponder Ku-band, ini jelas kalah dalam jumlah dibandingkan Thailand dan Measat.

Melihat fakta di atas jelas sekali Indonesia tertinggal dalam hal pemakaian frekuensi Ku-band. Ketertinggalan ini jangan terus menghajar semua provider layanan TV berbayar maupun Internet yang berfrekuensi Ku-band untuk tidak boleh berjualan di Indonesia, dengan segala cara.

Menurut kabar satelit iPSTAR juga belum mendapat izin berjualan di Indonesia. Padahal iPSTAR akan berjualan Internet dan mungkin saja TV berbayar juga, dengan harga yang relatif murah dibandingkan dengan aplikasi sejenis yang dilewatkan dengan frekuensi C – band (6/4GHz.).

C-band adalah frekuensi popular untuk Satelit Komunikasi di daerah tropis, karena tahan terhadap cuaca. Tetapi dengan C-band dish antennanya besar, ini berakibat sulitnya instalasi dan lama, selain juga membuat tarif menjadi mahal. Dengan Ku-band tarif menjadi murah.

Kenyataannya memang tidak ada satelit Indonesia dengan transponder Ku-band yang berkualitas bagus dengan liputan atau footprint dari Sabang sampai Merauke. Jika PALAPA D telat meluncur dan Measat 4 atau Measat 1R meluncur lebih dahulu – akan diluncurkan akhir 2008, maka lagi – lagi pasar akan diambil oleh Malaysia.

Mawas Diri

Indonesia jangan marah kepada Malaysia lalu dengan segala cara menghalangi Malaysia, misalnya dengan mengangkat isu-isu nasionalisme, legal, dan regulasi tapi mawas diri sajalah mengapa kita begini dan lawanlah Malaysia dengan kecerdasan bukan dengan kelicikan.

Apalagi sampai menyebutkan Ku-band merusak tatanan frekuensi di Indonesia. Kalau ada yang mengatakan hal ini sebaiknya belajarlah dahulu soal Satelit Komunikasi dan frekuensi dengan baik.

Akhirul kata, Menkominfo dan Dirjen Postel sebaiknya bijaksanalah dalam hal ini. Jangan sampai segala peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan justru merugikan masyarakat banyak tapi menguntungkan segelintir orang.

Rakyat Indonesia memerlukan infrastruktur Teknologi Informasi yang cepat dan murah yang dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat, sehingga rakyat dan bangsa ini bisa cepat mengejar ketertinggalannya dalam segala hal dari negara-negara tetangga dan negara-negara lainnya di dunia ini.

Mengingat wilayah Indonesia yang luas, berpulau-pulau, bergunung-gunung, dan dipisahkan oleh lautan, satelit adalah sebuah infrastruktur Teknologi Informasi yang mau tidak mau harus kita miliki dan frekuensi tinggi seperti Ku-band mempunyai keuntungan yang dapat membuat tarif ke end user murah.

Posted in Tak Berkategori | Leave a Comment »

Kasus ASTRO: Persaingan Teknologi Satelit Negeri Jiran

Posted by wahyu1576 pada April 15, 2008

Indonesia sejak tahun 1976 sudah menjadi Negara yang memiliki satelit sebagai sarana telekomunikasinya. Pada saat itu Indonesia adalah negara ketiga di dunia yang menggunakan satelit sebagai Sistem Komunikasi Domestiknya, setelah USA dan Kanada.

Bertahun-tahun lamanya Indonesia berjaya dalam persatelitan, semua negara – negara ASEAN memakai/menyewa transponder Satelit Palapa.

Tetapi ternyata negara-negara tetangga kita tidak tinggal diam, satu per satu mereka menyiapkan infrastruktur telekomunikasi yang paling luas liputannya ini. Malaysia, Thailand, Philipina, dan Singapura mulai meluncurkan satelitnya sendiri.

Mulailah terjadi persaingan di bidang satelit komunikasi ini. Indonesia mulai ketinggalan, bukan saja dalam hal Satelit ( Space Segment )-nya tapi juga dalam hal aplikasi yang dilewatkan atau didistribusikan dengan satelit.

Satelit adalah sebuah repeater yang diletakkan pada ketinggian 36.000 km di atas permukaan bumi – geostasioner. Karena ketinggiannya itu satelit mempunyai liputan yang sangat luas.

Pada awalnya satelit hanya dipergunakan untuk siaran televisi dan telepon. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi (IT), satelit juga berperanan penting dalan penyebaran informasi dan aplikasi IT lainnya; seperti internet, ATM, dan saat ini Multimedia.

ASTRO

Negara tetangga yang gencar dalam hal kompetisi bisnis satelit adalah Malaysia. Negara ini baru memiliki satelit sendiri sekitar 90-an di era PM Mahathir Mohamad. Mahathir dikenal dengan visi Malaysia 2020-nya. Beliau sangat perhatian terhadap perkembangan Teknologi Informasi dan infrastruktur serta segala sesuatu yang berkenaan dengan ruang angkasa.

Ini terbukti dengan peluncuran 2 satelit-nya Measat 1 dan 2 serta dilanjutkan dengan Measat 3 dan 4. Terbukti pula Malaysia berhasil mengirimkan astronotnya ke ruang angkasa, padahal ini seharusnya sudah dilakukan Indonesia pada 1986 kalau saja tidak terjadi kecelakaan pesawat ulang-alik.

Salah satu kecerdikan Malaysia yang lain adalah mendirikan sebuah Perusahaan TV berbayar ASTRO dengan memakai Satelit Measat 2, kemudian dilanjutkan dengan Measat 3. ASTRO menggunakan frekuensi Ku-band (14/12 GHz.). Dengan antenna 0.6 m layanan ASTRO di Malaysia berkembang pesat. Kemudian ASTRO mengembangkan sayapnya ke Indonesia dengan nama ASTRO NUSANTARA dan mulai mengudara sekitar 2005.

Siaran ASTRO cukup menarik dan mempunyai kualitas gambar yang bagus. ASTRO dengan berani memakai Ku-band sebagai frekuensi kerjanya. Frekuensi ini selalu dihindari oleh pemain satelit di daerah tropis termasuk Indonesia, karena redaman hujannya yang tinggi yang mengakibatkan terputusnya siaran.

Tetapi dengan memakai frekuensi ini ASTRO mengambil keuntungan, yaitu dish antenna yang kecil sehingga mudah dan cepat pemasangannya serta bandwidth yang lebar selain juga terhindar dari interferensi teresterial microwave.

Persaingan

Sebenarnya Indonesia juga mempunyai provider layanan TV berbayar yang mengudara sejak 1997 dengan memakai Satelit Cakrawarta, yang khusus dirancang untuk siaran atau broadcasting. Satelit ini mempunyai frekuensi kerja S-band, yang kemudian hari frekuensi ini sangat berdekatan dengan Wifi (2,4 GHz.) dan Wimax (2,3GHz.).

Maka terjadilah persaingan terbuka antara keduanya. Indovision seperti kewalahan dengan ASTRO. Padahal kalau dilihat dari frekuensi kerjanya S-band itu tidak rentan oleh cuaca, artinya siaran Indovision tidak akan putus jika ada hujan. Dan Indovision sudah mengeluarkan iklan yang secara tidak langsung mengungkapkan hal itu.

Ku-band, frekuensi yang ditakuti oleh pengguna satelit di daerah tropis, karena redaman hujannya tinggi. Redaman yang tinggi ini mengakibatkan putusnya siaran. Tetapi perkembangan Ku-band di daerah tropis makin hari makin gencar.

Posted in Tak Berkategori | 1 Comment »

Pengaruh The BEATLES Terhadap Komunisme di RUSIA

Posted by wahyu1576 pada April 15, 2008

Setelah 45 tahun lalu merekam band baru yang kemudian dikenal sebagai The Beatles, sutradara veteran Leslie Woodhead kembali mengangkat tema serupa. Kali ini ia mendalami sebuah tema seksi, politis, dan subversif: bagaimana The Fab Four menggoncangkan Kremlin dan meruntuhkan “iman” komunisme di jantungnya sendiri: Uni Sovyet.

Siapakah yang pertama kali mengesyut The Beatles? Jawabannya adalah: Leslie Woodhead. Pada 1962, ia bekerja di Granada TV di Manchester, dan di Cavern Club ia merekam sekelompok band yang belum begitu terkenal dan belum lagi membuat rekaman. Sebagai periset junior, ia mencari musik baru untuk ilustrasi acara North of England, dan pendatang baru dari Liverpool mungkin bisa memenuhi hal itu. Tiket masuknya pun cuma 12 Pounds. Ia pun merekam aksi panggung empat anak muda itu. Langsung jatuh cinta, ia pun mengikuti band baru itu ke berbagai club kumuh di utara Inggris selama beberapa bulan. Leslie bahkan meminta produser program TV local untuk memberikan kesempatan Beatles untuk tampil live, untuk pertama kalinya. Beberapa bulan kemudian, The Beatles menjadi sangat terkenal. “Dan 30 tahun kemudian, saya mendengar tentang generasi Beatles di Sovyet, dan saya pun berniat membuat film tentang itu”, ungkap pembuat dokumenter Children of Beslan dan A Cry from the Grave yang banyak dipuji kritikus itu.

Karena itulah sutradara senior yang sering membuat film HAM untuk BBC dan HBO ini berkunjung ke 20th International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA), 22 November- 2 Desember 2007 lalu. Dalam ajang IDFA Forum, ia mempresentasikan proyek untuk mendapatkan dana produksi berjudul “ The Beatles, The Comrades, and Me: How the Fab Four killed Communism”.

“Di sana, lusinan pemilik dana punya ketertarikan yang besar pada proyek Beatles saya ini” jelas Woodhead kepada penulis, lewat surat elektronik. Ia menjelaskan, ada beberapa masalah kompleks ,seperti hak DVD dan penjualan, yang sedang diselesaikan.

Sebenarnya, Woodhead sudah mengantongi $150 ribu dari BBC, dan itu digunakannya untuk riset dan awal pembuatan film ini ke Russia. Tapi ia masih butuh $ 350 ribu lagi. “Biaya produksinya mahal karena harus disyut di Russia, yang adalah negara mahal. Tapi yang lebih penting lagi adalah masalah hak cipta footages arsip-arsip, dan membayar musiknya.

 

Beberapa bulan terakhir, Woodhead sudah melakukan riset dan pengembangan cerita, serta mengesyut beberapa scene di Russia dan juga fans Beatles Uni Sovyet yang kini di Kanada. “Yang menarik, saya bertemu dengan banyak orang yang begitu serius dengan ide bahwa Beatles sangat penting dalam meruntuhkan komunisme”, jelasnya.

 

Pengalaman Leslie membuat film di Russia sejak 1986, misalnya The Last Soviet Citicens dan Who is Vladimir Pozner , dan juga pengetahuannya tentang Uni Sovyet yang didapatnya sewaktu masih bergabung ke militer pada 1950an, adalah satu nilai tambah untuk menyiasati sulitnya membuat film di sana, apalagi hal yang “subversif” ini. “Tapi justru jadi memperkaya film ini, apalagi dengan kebangkitan nasionalisme Rusia yang sedang marak,” jelas

Bekal lainnya, ia pernah membuat beberapa film musik salah satunya adalah The Stones in the Park, 5 Juli 1969. “Rolling Stones yang meminta produser saya, mendiang Jo Durden Smith dan juga saya untuk membuatnya. Jadi, tidak ada masalah akses ke mereka. Problemnya waktu itu Cuma soal logistic, negosiasi akses ke panggung, dan posisi kamera”. Ia juga membuat dokumenter tentang 25 tahun Woodstock , Saving Jazz (tentang musik di New Orleans setelah Badai Katrina) dan juga merekam perjalanan Tony Bennett (Tony Bennett’s New York ( Profile of the Singer), 1997) dan Randy Newman (Randy Newman;s America (The Music & myths of Newman), 1994) itu

Temuan
Beberapa bulan menjelajahi Russia, khususnya Moskow dan St Petersburg, juga Kanada, membuahkan banyak cerita dan temuan-temuan penting seputar Beatlemania di masa komunisme dan perang dingin dua blok raksasa. Para penggemar The Four Fab kebanyakan bercerita tentang revolusi mereka menjadi Beatlestan. Sebagai OST, tentu saja lagu-lagu Beatles, tapi kali ini dibawakan oleh band-band dari Russia.

Beberapa narasumber adalah Artemy Troitsy (penulis lagu Rock terkenal, promotor, kritikus), Kolya Vasin (penggemar berat Beatles, basis band cover dari Vladivostok), Boris Grebenshikov (rocker, campuran Dylan dan Lennon), Alexander Gradsky (pemimpin band Time Machine), dan Yuri Pelyushonok (penulis buku tentang Beatlemania di Minsk).

Ada juga para pejabat. Misalnya Sergei Ivanov, Menteri Pertahanan Russia, yang—menurut Leslie-potensial untuk menjadi presiden mendatang, yang belajar bahasa Ingris dari album The Beatles, dan dimulai dari Love Me Do saat ia masih 13 tahun. Ada mantan presiden Michael Gorbachev, yang Leslie juluki “Russia’s Rock n Roll President”.

Dari “kubu” Beatles, ada penulis Back in the USSR, Paul McCartney, yang akhirnya main di Red Square pada 2003. Yang menarik, setelah menonton konser yang dihadiri seratus ribu penonton itu, Gorbachev berkata pada Paul: : “I don’t think yours is just pop music. It is something much greater.”

Gradsky, misalnya, bercerita bagaimana pada 1963, ia pertama kali mendengarkan John, Paul, George, dan Ringo. “Saat itu saya langsung histeris. Segala sesuatu selain mereka adalah Pointless!” ujarnya. Sedangkan Pelyushonok, saat itu pelaut, adalah perintis barter “Beatles-for-cars”.

“Bagi kami, Beatles adalah api kebebasan,” ungkap Kolva Vasin yang mengoleksi kaos, lilin, bahkan papan jalan Penny Lane dan sebuah miniature Yellow Submarine–ia menamai kucingnya dengan Hey Jude. “Setelah mendengar Beatles, saya mulai percaya dengan Tuhan. Saya jadi benci Budaya Sovyet yang penuh politik dan aturan,” ungkapnya. “Generasi kami saat itu sedang mencari sensasi, petualangan dalam budaya Barat. Beatles memberitahuku:” Jangan takut, jadilah manusia’”, ujar pria yang memimpikan punya John Lennon Temple of Love di apartemennya sejak 1960an itu.

Kolya ingat, awal 1960an, Nikita Khrushchev menyatakan bahwa gitar listrik adalah “musik rakyat Sovyet”. Bagaimana dengan jazz? ‘A simple Jazz player today, tomorrow the motherland he’ll betray’ ”. Kolya menyatakan, Sekretaris PErtama Konstantin Chernenko memperingati generasi muda saat itu: ” Rock music is part of an arsenal of subversive weapons, aimed at undermining the commitment of young Russians to Communist ideology. The Beatles are enemies of the people”. Kolya pun menyadari, bahwa pemerintahnya benar, bahwa memang Rock n’ Roll adalah hal menakutkan dan mengancam mereka.

Salah satu sahabat Kolya adalah Sveta, seorang pemurung yang mendadak cerita saat bercerita bagaimana ia menapaktilasi Abbey Road, Penny Lane, dan rumah keempat personil di Inggris.

Penggemar lainnya adalah Sasha Lipnitsky, basis Zvuky Mu, salah satu band rock tertua di sana. Ia adalah saksi bagaimana Love me Do, Please Please Me, dan Can’t Buy Me Love “mencuci otak” generasi muda. “Semakin dilarang, mereka semakin popular di sini,” jelasnya. “The Beatles destroyed Communism inside me” imbuhnya.

Vladimir Pozner, adalah anak dari agen KGB, mengatakan testimony bagaimana pesan All You Need is Love menginspirasi banyak anak muda di Blok Timur untuk tidak takut kepada –yang sering dibilang pemerintah sebagai—musuh. Dan mereka sadar bahwa otoritas komunisme, dan bukan Imperialisme Barat, yang sesungguhnya menjadi penghalang kebahagiaan.

“I think I’m a mutant” aku Svetlana Kunitsina yang masa kecilnya dihabiskan di dekat markas Kapal Selam Nuklir. Wanita ini hidup dalam generasi di mana anak-anak cowok ingin bitlovka, jaket tanpa kerah bergaya Nehru yang dipakai dalam film Help—dan atribut Beatles menempel di jaket seragam sekolah.

“Semua karakter itu akan ada dalam film ini”, jelas Woodhead kepada penulis. Film ini akan selesai akhir 2009, sekaligus dalam perayaan 20 tahun runtuhnya Tembok Berlin. Mari kita tunggu.

“I’m back in the U.S.S.R.
You don’t know how lucky you are boy”

Back in the U.S.S.R.

Dimuat di Rolling Stone Indonesia, Februari 2008

Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Test Membuat Blog

Posted by wahyu1576 pada Maret 28, 2008

Hari ini, Jumat 28 Maret 2008, dengan sedikit paksaan dari teman saya dalam rapat jardiknas dengan ict center purbalingga, purwokerto, cilacap, sembari memimpin rapat, masih sempat juga melirik teman yang sedang membuat blog, akhirnya tertarik dan coba membuat blog lewat wordpress, semoga masih sempat menulis konten yang menarik di blog ini.

Posted in Uncategorized | 8 Comments »

Hello world!

Posted by wahyu1576 pada Maret 28, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment »