Setelah 45 tahun lalu merekam band baru yang kemudian dikenal sebagai The Beatles, sutradara veteran Leslie Woodhead kembali mengangkat tema serupa. Kali ini ia mendalami sebuah tema seksi, politis, dan subversif: bagaimana The Fab Four menggoncangkan Kremlin dan meruntuhkan “iman” komunisme di jantungnya sendiri: Uni Sovyet.
Siapakah yang pertama kali mengesyut The Beatles? Jawabannya adalah: Leslie Woodhead. Pada 1962, ia bekerja di Granada TV di Manchester, dan di Cavern Club ia merekam sekelompok band yang belum begitu terkenal dan belum lagi membuat rekaman. Sebagai periset junior, ia mencari musik baru untuk ilustrasi acara North of England, dan pendatang baru dari Liverpool mungkin bisa memenuhi hal itu. Tiket masuknya pun cuma 12 Pounds. Ia pun merekam aksi panggung empat anak muda itu. Langsung jatuh cinta, ia pun mengikuti band baru itu ke berbagai club kumuh di utara Inggris selama beberapa bulan. Leslie bahkan meminta produser program TV local untuk memberikan kesempatan Beatles untuk tampil live, untuk pertama kalinya. Beberapa bulan kemudian, The Beatles menjadi sangat terkenal. “Dan 30 tahun kemudian, saya mendengar tentang generasi Beatles di Sovyet, dan saya pun berniat membuat film tentang itu”, ungkap pembuat dokumenter Children of Beslan dan A Cry from the Grave yang banyak dipuji kritikus itu.
Karena itulah sutradara senior yang sering membuat film HAM untuk BBC dan HBO ini berkunjung ke 20th International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA), 22 November- 2 Desember 2007 lalu. Dalam ajang IDFA Forum, ia mempresentasikan proyek untuk mendapatkan dana produksi berjudul “ The Beatles, The Comrades, and Me: How the Fab Four killed Communism”.
“Di sana, lusinan pemilik dana punya ketertarikan yang besar pada proyek Beatles saya ini” jelas Woodhead kepada penulis, lewat surat elektronik. Ia menjelaskan, ada beberapa masalah kompleks ,seperti hak DVD dan penjualan, yang sedang diselesaikan.
Sebenarnya, Woodhead sudah mengantongi $150 ribu dari BBC, dan itu digunakannya untuk riset dan awal pembuatan film ini ke Russia. Tapi ia masih butuh $ 350 ribu lagi. “Biaya produksinya mahal karena harus disyut di Russia, yang adalah negara mahal. Tapi yang lebih penting lagi adalah masalah hak cipta footages arsip-arsip, dan membayar musiknya.
Beberapa bulan terakhir, Woodhead sudah melakukan riset dan pengembangan cerita, serta mengesyut beberapa scene di Russia dan juga fans Beatles Uni Sovyet yang kini di Kanada. “Yang menarik, saya bertemu dengan banyak orang yang begitu serius dengan ide bahwa Beatles sangat penting dalam meruntuhkan komunisme”, jelasnya.
Pengalaman Leslie membuat film di Russia sejak 1986, misalnya The Last Soviet Citicens dan Who is Vladimir Pozner , dan juga pengetahuannya tentang Uni Sovyet yang didapatnya sewaktu masih bergabung ke militer pada 1950an, adalah satu nilai tambah untuk menyiasati sulitnya membuat film di sana, apalagi hal yang “subversif” ini. “Tapi justru jadi memperkaya film ini, apalagi dengan kebangkitan nasionalisme Rusia yang sedang marak,” jelas
Bekal lainnya, ia pernah membuat beberapa film musik salah satunya adalah The Stones in the Park, 5 Juli 1969. “Rolling Stones yang meminta produser saya, mendiang Jo Durden Smith dan juga saya untuk membuatnya. Jadi, tidak ada masalah akses ke mereka. Problemnya waktu itu Cuma soal logistic, negosiasi akses ke panggung, dan posisi kamera”. Ia juga membuat dokumenter tentang 25 tahun Woodstock , Saving Jazz (tentang musik di New Orleans setelah Badai Katrina) dan juga merekam perjalanan Tony Bennett (Tony Bennett’s New York ( Profile of the Singer), 1997) dan Randy Newman (Randy Newman;s America (The Music & myths of Newman), 1994) itu
Temuan
Beberapa bulan menjelajahi Russia, khususnya Moskow dan St Petersburg, juga Kanada, membuahkan banyak cerita dan temuan-temuan penting seputar Beatlemania di masa komunisme dan perang dingin dua blok raksasa. Para penggemar The Four Fab kebanyakan bercerita tentang revolusi mereka menjadi Beatlestan. Sebagai OST, tentu saja lagu-lagu Beatles, tapi kali ini dibawakan oleh band-band dari Russia.
Beberapa narasumber adalah Artemy Troitsy (penulis lagu Rock terkenal, promotor, kritikus), Kolya Vasin (penggemar berat Beatles, basis band cover dari Vladivostok), Boris Grebenshikov (rocker, campuran Dylan dan Lennon), Alexander Gradsky (pemimpin band Time Machine), dan Yuri Pelyushonok (penulis buku tentang Beatlemania di Minsk).
Ada juga para pejabat. Misalnya Sergei Ivanov, Menteri Pertahanan Russia, yang—menurut Leslie-potensial untuk menjadi presiden mendatang, yang belajar bahasa Ingris dari album The Beatles, dan dimulai dari Love Me Do saat ia masih 13 tahun. Ada mantan presiden Michael Gorbachev, yang Leslie juluki “Russia’s Rock n Roll President”.
Dari “kubu” Beatles, ada penulis Back in the USSR, Paul McCartney, yang akhirnya main di Red Square pada 2003. Yang menarik, setelah menonton konser yang dihadiri seratus ribu penonton itu, Gorbachev berkata pada Paul: : “I don’t think yours is just pop music. It is something much greater.”
Gradsky, misalnya, bercerita bagaimana pada 1963, ia pertama kali mendengarkan John, Paul, George, dan Ringo. “Saat itu saya langsung histeris. Segala sesuatu selain mereka adalah Pointless!” ujarnya. Sedangkan Pelyushonok, saat itu pelaut, adalah perintis barter “Beatles-for-cars”.
“Bagi kami, Beatles adalah api kebebasan,” ungkap Kolva Vasin yang mengoleksi kaos, lilin, bahkan papan jalan Penny Lane dan sebuah miniature Yellow Submarine–ia menamai kucingnya dengan Hey Jude. “Setelah mendengar Beatles, saya mulai percaya dengan Tuhan. Saya jadi benci Budaya Sovyet yang penuh politik dan aturan,” ungkapnya. “Generasi kami saat itu sedang mencari sensasi, petualangan dalam budaya Barat. Beatles memberitahuku:” Jangan takut, jadilah manusia’”, ujar pria yang memimpikan punya John Lennon Temple of Love di apartemennya sejak 1960an itu.
Kolya ingat, awal 1960an, Nikita Khrushchev menyatakan bahwa gitar listrik adalah “musik rakyat Sovyet”. Bagaimana dengan jazz? ‘A simple Jazz player today, tomorrow the motherland he’ll betray’ ”. Kolya menyatakan, Sekretaris PErtama Konstantin Chernenko memperingati generasi muda saat itu: ” Rock music is part of an arsenal of subversive weapons, aimed at undermining the commitment of young Russians to Communist ideology. The Beatles are enemies of the people”. Kolya pun menyadari, bahwa pemerintahnya benar, bahwa memang Rock n’ Roll adalah hal menakutkan dan mengancam mereka.
Salah satu sahabat Kolya adalah Sveta, seorang pemurung yang mendadak cerita saat bercerita bagaimana ia menapaktilasi Abbey Road, Penny Lane, dan rumah keempat personil di Inggris.
Penggemar lainnya adalah Sasha Lipnitsky, basis Zvuky Mu, salah satu band rock tertua di sana. Ia adalah saksi bagaimana Love me Do, Please Please Me, dan Can’t Buy Me Love “mencuci otak” generasi muda. “Semakin dilarang, mereka semakin popular di sini,” jelasnya. “The Beatles destroyed Communism inside me” imbuhnya.
Vladimir Pozner, adalah anak dari agen KGB, mengatakan testimony bagaimana pesan All You Need is Love menginspirasi banyak anak muda di Blok Timur untuk tidak takut kepada –yang sering dibilang pemerintah sebagai—musuh. Dan mereka sadar bahwa otoritas komunisme, dan bukan Imperialisme Barat, yang sesungguhnya menjadi penghalang kebahagiaan.
“I think I’m a mutant” aku Svetlana Kunitsina yang masa kecilnya dihabiskan di dekat markas Kapal Selam Nuklir. Wanita ini hidup dalam generasi di mana anak-anak cowok ingin bitlovka, jaket tanpa kerah bergaya Nehru yang dipakai dalam film Help—dan atribut Beatles menempel di jaket seragam sekolah.
“Semua karakter itu akan ada dalam film ini”, jelas Woodhead kepada penulis. Film ini akan selesai akhir 2009, sekaligus dalam perayaan 20 tahun runtuhnya Tembok Berlin. Mari kita tunggu.
“I’m back in the U.S.S.R.
You don’t know how lucky you are boy”
Back in the U.S.S.R.
Dimuat di Rolling Stone Indonesia, Februari 2008